TUMPEK LANDEP, TAJAMKAN ''SENJATA KEHIDUPAN''

Hari ini (15-08-2009), Saniscara Kliwon Wuku Landep, seperti biasa umat Hindu merayakan Tumpek Landep. Dalam konteks ritual, umumnya umat Hindu memohon ke hadapan Hyang Widi Wasa agar tiap peralatan teknologi dapat berfungsi tepat guna, memudahkan umat dalam beraktivitas.

Di balik itu, apa sesungguhnya makna Tumpek Landep? Plt. Rektor Institut Hindu Dharma (IHD) Negeri Denpasar Drs. I Gede Rudia Adiputra, M.Ag. mengatakan perayaan Tumpek Landep pada hakikatnya memohon kepada Tuhan agar umat diberikan ketajaman senjata kehidupan. ''Landep itu mengandung makna runcing atau tajam. Jadi yang ditajamkan adalah senjata kehidupan kita. Tumpek Landep dipakai momen untuk menajamkan senjata kehidupan,'' ujar Rudia Adiputra.

Senjata kehidupan itu, kata Rudia, tak lain adalah pikiran. Agar pikiran cerdas, perlu ditajamkan melalui penguasaan ilmu pengetahuan. Melalui pikiran yang tajamlah umat diharapkan mampu menghadapi berbagai musuh dalam diri. Musuh itu yakni persoalan-persoalan kehidupan, antara lain kemiskinan, kebodohan, kegelapan dan sebagainya. ''Berbagai musuh itulah yang mesti kita lawan dengan tajamnya pikiran dan hati nurani,'' ujarnya.

Kata Rudia, menajamkan pikiran itu melalui penguasaan ilmu pengetahuan. Melalui perayaan Hari Saraswati-lah umat Hindu bersyukur kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa karena telah diturunkannya ilmu pengetahuan. Sementara, dalam Tumpek Landep umat ''mengevaluasi'' apakah tajamnya pikiran lewat penguasaan ilmu pengetahuan sudah mampu digunakan dengan baik.

Kata Rudia, salah besar jika ada anggapan bahwa Tumpek Landep dimaknai otonan kendaraan. Pada Tumpek Landep umat sejatinya memohon keselamatan agar senjata kehidupannya bisa bermanfaat demi kesejahteraan umat manusia. Pun kendaraan, senjata dan alat-alat teknologi tercipta dari olah pikir manusia. Dalam ritual Tumpek Landep, alat-alat itu diharapkan dapat berfungsi untuk memudahkan aktivitas manusia sekaligus bermakna bagi kehidupan bersama.

Makna bagi Seniman
Tumpek Landep pun memiliki makna tersendiri bagi para seniman. Rektor Institut Seni Indonesia (ISI) Negeri Denpasar Prof. Dr. Wayan Rai S, M.A. mengatakan Tumpek Landep sebagai momen penting untuk mempertajam kemampuan seni bagi seorang seniman.

Perayaan Tumpek Landep itu hendaknya dijadikan tonggak untuk memantapkan diri dalam berkesenian yakni menajamkan penciptaan, teknik garapan dan sebagainya. Untuk bisa membuat garapan yang betul-betul metaksu, perlu ada upaya dari dalam maupun luar diri seniman.

Kata Rai, Tumpek Landep erat sekali hubungannya dengan taksu. Secara umum, para seniman sudah melakukan pemujaan saat memulai berkesenian. Tetapi dalam perayaan Tumpek Landep, para seniman lebih memantapkan diri melakukan penajaman melalui persembahyangan agar metaksu. Dengan mengosongkan pikiran untuk memuja Tuhan, diharapkan muncul inspirasi dan spirit baru.

Sebagai bentuk ritual memuja Dewa Kesenian dalam Tumpek Landep, para seniman biasanya mengupacarai atribut tari seperti gelungan, keris, tombak dan lain-lain. ''Dengan melangsungkan ritual seperti itu para seniman berharap agar selalu diberikan ketajaman dalam berkesenian,'' katanya.

Penajaman itu tak hanya lewat keterampilan atau latihan, tetapi juga spiritual. Sehingga para seniman mampu tampil tajam atau metaksu. ''Untuk bisa metaksu, seorang seniman harus meraihnya melalui kedua aspek yakni fisik maupun mental,'' katanya.

Aspek fisik melalui latihan-latihan menabuh dan menari. Aspek mental melalui pendalaman-pendalaman keilmuan dan kaitannya dengan keyakinan terhadap Ida Sang Hyang Widi, sehingga mampu tajam atau metaksu dalam penampilan. * subrata

sumber: balipost.co.id

Pegawai Negeri Sipil atau Pegawai Negeri Santai

dicopy full dari tulisan Shabrun

Judul diatas mengelitik benak saya untuk sekedar menuliskan sedikit tentang PNS. Pada dasarnya PNS begitu diminati dengan berbagai macam alasan, bahkan begitu banyak orang rela berlama-lama menjadi SPN (seperti pegawai negeri) alias tenaga honorer lengkap dengan baju yang mirip PNS. Sungguh sangat miris rasanya jika kita baca peran seorang Margareth Thatcher yang kita kenal sebagai 'wanita besi', yang begitu terkenal keras saat memerintah. Saking kerasnya beliau memangkas ribuan posisi dalam pemerintahan di Inggris ditahun 1976, setelah itu beliau teruskan lagi dengan rayenism dengan merekrut para ahli efiesiensi, dan akhirnya berbuah pelayanan publik yang cukup sempurna ... Inggris berbenah begitu jauh dalam sektor publik, seiring dengan pengembangan akuntansi sektor publik dalam bentuk tekhnologi
Menjadi PNS di Indonesia? hhhmm suatu hal yang begitu banyak diminati orang mendaftar berjubel, pakai protes segala jika tidak diterima, pakai sujud syukur jika berhasil diterima, sebegitu perlukah kita membuka keran pendaftaran PNS? atau hanya perwujudan dari janji-janji politik saat kampanye dalam penyediaan lapangan kerja. Begitu banyakkah pekerjaan yang ada dalam tubuh pemerintahan, sehingga setiap tahun membutuhkan tenaga pengganti bagi mereka yang pensiun? pertanyaan-pertanyaan diatas tidak sendiri muncul, melainkan akibat dari tidak terurusnya pelayanan sektor publik yang diberikan oleh rekan-rekan PNS. Bahkan sampai iklan rokokpun mengkritisi kinerja PNS yang tentunya ini tidak bisa digeneralisasi,namun cukup memberikan fenomena tersendiri untuk lebih mengkoreksi kinerja entity-entity terutama yang masuk dalam kategori pelayanan sektor publik.
Adalah penting untuk dimengerti bahwa TAX adalah revenue terbesar dalam memberikan sumbangsih kepada 'goverment expenditure', dengan bahasa yang lebih mudah pajak yang dipungut dari rakyat itulah yang mengcover biaya-biaya yang dikeluarkan oleh pemerintah termasuk dalam hal ini gaji PNS. Dengan pemahaman tersebut, masih adakah kesempatan untuk 'SANTAI' bagi seorang PNS. PNS harus lebih bekerja keras... harus lebih melayani masyarakat.... dengan demikian jadilah mereka Pegawai Negeri Sipil dan menjauhkan mereka dari kesan Pegawai Negeri Santai.....
PNS dan institusi tentunya tidak hanya diam tanpa berbenah, harus kita akui berubahnya sistem anggaran berimbang menjadi sistem anggaran kinerja adalah suatu pertanda bahwa PNS dan institusinya mengalami perubahan. Sejak awal tahun 2004 disetujuinya Standar Akuntansi Pemerintahan untuk diimplementasikan, adalah suatu kemajuan mengingat sejak merdeka kita tidak pernah punya Standar Akuntansi Pemerintahan. Pembenahan yang dilakukan didunia akademisi dalam hal ini PTN menjadi Badan Hukum Pendidikan, demikian juga dibidang medis dengan tidak mem-plot posisi direktur/rektor harus dari tenaga medis/akademisi, semakin membuka kacamata kita akan pentingnya pelayanan sektor publik yang selama ini kurang terurus.Mari kita terus memberikan dorongan pada para PNS untuk terus memberikan pelayanan public yang sempurna, setidaknya dengan memberi pemahaman pentingnya pelayanan public bagi mereka yang ingin menjadi PNS